La’allakum Tattaquun

0
59

Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,
Pak Ustadz, sejak menjelang dan sepanjang Ramadhan seringkali saya mendengar tausiah yang menyatakan bahwa diwajibkan puasa Ramadhan adalah la’allakum tattaaquun, agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa. Sebetulnya apa kriteria orang bertaqwa itu, Pak Ustadz? Hal ini agar saya bisa mawas diri apakah saya sudah termasuk muttaqiin (orang-orang yang bertaqwa) atau belum?
Atas penjelasan Pak Ustadz saya haturkan terima kasih.
Wassalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Dian, Jakarta

Wa’alaikumus-salaam warahmatullahi wabarakaatuh,

Kalau ditanya tentang kriteria orang bertaqwa, itu banyak sekali. Sebagai contoh, dalam surah AL-Baqarah ayat 3 dan 4 dinyatakan beberapa kriteria muttaqiin adalah:

  • Beriman atau percaya pada hal-hal yang gaib
  • Menegakkan shalat
  • Meng-infaq-kan Sebagian rizki
  • Percaya kepada Al-Qur’an dan kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya
  • Yakin dengan adanya akhirat

Sedangkan dalam surah Ali Imran ayat 134 dan 135 kriteria muttaqiin adalah:

  • Ber-infaq dalam keadaan lapang maupun sempit
  • Bisa menahan marah atau mengendalikan emosi
  • Mudah memaafkan pada orang lain
  • Bila berbuat dosa segera bertobat kepada Allah dengan tekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama

Masih banyak ayat lain yang menerangkan tentang kriteria orang taqwa. Maka kemudian ulama membuat

definisi tentang taqwa, diantaranya bahwa taqwa itu adalah melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan.

                Sebagai contoh, dalam hadist yang menjelaskan tentang adanya tujuh golongan yang kelak di padang mahsyar akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan Allah pada hari tidak ada naungan lain selain naungan Allah. Salah satunya adalah:

وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ

                Seorang lelaki yang diajak berbuat zina oleh seorang Wanita yang cantik dan mapan tapi si lelaki bisa dengan tegar mengatakan: “Tidak! Saya lebih takut kepada Allah”.

                Contoh kedua, cerita seorang ibu yang sedang mempersiapkan susu untuk dijual, dia mengatakan, pada anak gadisnya: “Nak, kita campur saja dengan air agar dagangan kita semakin banyak sehingga keuntungan kita juga semakin banyak”.

                Anak gadisnya mengatakan: “ibu, bukankah Khalifah Umar seringkali mengingatkan agar kita menjaga kejujuran dan tidak melakukan keculasan?’

                Si ibu menjawab: “Alah, Khalifah ‘kan tidak tahu apa yang kita lakukan”.

                Si gadis kecil itu mengatakan kepada ibunya: “Ibu, kalaupun Khalifah Umar tidak melihat kita , sesungguhnya Allah, Tuhannya Umar selalu melihat kita”.

                Dari mana si gadis itu memiliki karakter seperti itu? Itulah wujud ketaqwaan, tidak mau menipu atau mengkhianati orang lain termasuk pelanggan hanya sekedar untuk mendapatkan keuntungan duniawai.

                Ketakwaan bukan hanya ditentukan oleh ibadah ritual seperti shalat dan puasa, tetapi juga ditentukan oleh akhlak budi pekerti sehari-hari dalam pergaulan dengan sesama warga masyarakat. Yaitu budi pekerti yang lemah lembut penuh kasih sayang , bisa mengendalikan emosi , tidak bersumbu pendek alias mudah marah,dan selalu merasa di bawah pengawasannya Allah Yang Maha Melihat sehinggadia sebagai muttaqiin tidak berani untuk berbuat maksiat, mencuri, korupsi atau mengambil harta yang bukan haknya. Mudah-mudahan kita bisa tergolong di dalamnya.

                Wallaahul-musta’aan , wa laa haul awa laa quwwata illaabillaah,

                Wassalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh./*

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini